Memuat update terbaru...
budaya

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

Yusha Aura

Jurnalis

Yusha Aura

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

simbol.id - Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe masih tercatat sebagai salah satu situs unggulan di Kabupaten Ciamis, tepatnya di Dusun Tinggarahayu, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis. Data historis mencatat kawasan ini menyimpan jejak Kerajaan Galuh yang panjang, jauh sebelum Ciamis dikenal seperti hari ini. Lokasi ini bukan sekadar makam keramat, melainkan simpul memori kolektif Tatar Sunda.

Asal Usul Kerajaan Galuh Pangauban di Balik Kawasan Keramat Salawe

Sementara itu, data sebelumnya menunjukkan kompleks keramat di Cimaragas merupakan tinggalan Kerajaan Galuh Pangauban Gara Tengah. Penelitian Universitas Galuh pada 2019 menegaskan penguasa di balik peninggalan ini adalah Raja Cipta Permana yang memerintah periode 1595-1618 M. Ia dicatat sebagai penguasa Galuh Pangauban Islam pertama, karena sebelumnya Islam belum mampu menembus pertahanan Galuh di wilayah pedalaman. Silsilahnya ditarik sebagai keturunan Prabu Siliwangi dari istri Inten Kedaton, sebuah tautan genealogis yang menjelaskan legitimasi politiknya sekaligus alasan kuat mengapa situs ini dihormati lintas generasi.

Di dalam areal tersebut, artefak yang ditemukan bukan satu dua. Catatan awal menyebut adanya bcb batu entog, batu lambang peribadatan, patilasan Prabu Galuh Salawe, dan sebagainya. Deskripsi itu kemudian diperkaya riset artefaktual: ada batu entog atau wisnumurti yang identik dengan Trimurti, batu prasasti beraksara tua, batu pangcalikan atau sering disebut batu panggeresan yang berfungsi sebagai singgasana raja, plus perkakas dan peralatan dari batu yang menunjukkan aktivitas hunian dan pertahanan.

Kompleks cagar budaya Galuh Salawe di Cimaragas Ciamis
Kawasan peninggalan Galuh Pangauban di Cimaragas yang menyimpan artefak Hindu-Islam

Jejak Bung Karno Ketika Masih Mahasiswa ITB di Salawe

Sebelumnya dilaporkan bahwa Prabu Salawe sekitar tahun 30 an ternyata telah dikunjungi oleh Bapak Proklamator Presiden pertama RI Ir. Soekarno, beliau berkunjung ke situs Prabu Galuh di Salawe ketika masih menjadi mahasiswa ITB Bandung. Cerita ini terdengar seperti legenda lisan, tapi buktinya fisik. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya data-data kliping koran yang masih tersimpan sampai sekarang di Jupel Salawe Abah latif Adiwijaya. Bagi redaksi, detail ini krusial: mahasiswa Soekarno muda sudah menyusuri pedalaman Galuh untuk menggali akar kebangsaan, jauh sebelum pidato-pidato besar kemerdekaan. Praktik tirakat di situs ini menjadi bagian dari laku spiritual yang kerap ia lakukan di berbagai petilasan Nusantara.

Update penting datang pada tahun 2013 setelah melalui seleksi yang ketat dari The Soekarno Center yang berpusat di Tampaksiring Bali, Situs Prabu Galuh di Salawe mendapatkan sertifikat The Soekarno Center yang akan diberikan penganugrahan pada tanggal 20 Nopember 2013 di Balai Kota Bandung oleh Ketua The Soekarno Center Ibu Sukmawati Soekarno Puteri. Sertifikasi itu menempatkan lokasi ini dalam jaringan situs jejak Soekarno nasional, bukan sekadar situs lokal. Sumber awal catatan ini: Eman Hermansyah Sastrapraja/PANGAUBAN GALUH PAKUAN. Dari sisi kuratorial, pengakuan tersebut memberi nilai tambah historis-politik yang tidak dimiliki situs sejenis.

Lapisan Artefak Hindu Islam yang Jarang Ditemui di Tatar Sunda

Dalam perkembangan terbaru, penelitian menegaskan keunikan situs ini terletak pada akulturasi. Ada peninggalan masa Hindu dan masa Islam dalam satu hamparan. Batu Entog Trimurti menjadi simbol kosmologi Hindu, sementara orientasi makam dan patilasan ulama menandai fase Islamisasi Galuh pedalaman. Kombinasi ini tidak banyak ditemukan di situs lain di Priangan Timur. Pengunjung yang jeli akan melihat bagaimana batu lambang peribadatan masa lalu berdampingan dengan struktur yang lebih Islamik, menandakan transisi yang relatif damai.

Deretan Patilasan Tokoh dan Struktur Kekuasaan Lama

Data historis mencatat komplek ini juga menyimpan patilasan Prabu Silihwangi, patilasan Ulama Besar Syekh Abdul Kodir Jaelani, patilasan Raja Cipta Permana lengkap dengan Patih, para petinggi kerajaan, juru keuangan, para duta besar kerajaan, putra mahkota raja, hingga gudang persenjataan. Struktur ini seperti miniatur tata negara. Bagi peziarah, setiap batu pangcalikan punya cerita jabatan, bukan sekadar batu duduk. Gudang persenjataan mengindikasikan fungsi pertahanan Gara Tengah yang strategis di jalur pedalaman.

Ritual Misalin di situs keramat Salawe Cimaragas
Warga mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe, tradisi menjelang Ramadan yang masih lestari

Tradisi Misalin Menjelang Ramadan yang Tetap Hidup

Gambar lama yang sempat beredar memperlihatkan WARGA mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe di Cimaragas Kabupaten Ciamis, Minggu (15/7). Misalin salah satu ritual yang digelar menjelang Ramadan. Dalam perkembangan terbaru per 3, Nov, 2026, 01:07:32, praktik tersebut masih berlangsung. Update terkini menunjukkan warga Dusun Tunggal Rahayu - penamaan administratif baru yang sebelumnya tertulis Tinggarahayu - masih menggelar doa bersama, bersih situs, dan ziarah massal. Perubahan toponimi dusun ini mencerminkan sinkronisasi data desa, tapi substansi ritualnya identik. Misalin menjadi penanda kalender sosial, momentum rekonsiliasi warga sebelum puasa.

Menjaga stamina saat mengikuti prosesi panjang di area berbukit butuh persiapan fisik. Pemahaman tentang makna kesehatan menurut ahli membantu peziarah mengatur napas, hidrasi, dan jeda istirahat. Aspek kesehatan jasmani ini sering luput, padahal rute menuju area batu entog cukup menanjak.

Revitalisasi dan Pemanfaatan Edukatif Per November 2026

Berdasarkan informasi terkini per 3, Nov, 2026, 01:07:32, Dinas Kebudayaan Kabupaten Ciamis telah menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya prioritas untuk perawatan. Berbeda dengan kondisi 2013 yang mengandalkan juru pelihara mandiri, kini ada skema pemeliharaan kolaboratif melibatkan akademisi Universitas Galuh dan komunitas Pangauban Galuh Pakuan. Laporan pengabdian 2024 juga mencatat upaya promosi wisata religi dan budaya melalui media sosial Instagram untuk meningkatkan kunjungan, terutama generasi muda. Konten reels yang menampilkan batu panggeresan dan cerita Raja Cipta Permana terbukti menaikkan minat kunjungan akhir pekan.

Sementara itu, pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah dan pendidikan karakter mulai diterapkan. Penelitian di SMAN 3 Banjar menunjukkan siswa kelas X diajak langsung ke lokasi untuk membaca batu prasasti dan mendiskusikan nilai kepemimpinan Raja Cipta Permana. Aktivitas seperti ini menuntut strategi mengatur waktu ziarah agar rombongan tidak bentrok dengan jadwal ritual warga. Pola kunjungan edukatif di hari kerja, ritual di akhir pekan, terbukti efektif. SMAN 3 Banjar bahkan mengembangkan modul karakter berbasis nilai patilasan.

ElemenTemuan Lama 2013Update 2024-2026Status
LokasiDusun TinggarahayuDusun Tunggal Rahayu / TunggulrahayuSinkronisasi administratif
Artefak UtamaBatu entog, batu peribadatanTrimurti, panggeresan, prasasti, gudang senjataInventarisasi lengkap
Jejak SoekarnoKunjungan 1930an, kliping koran Abah LatifSertifikat The Soekarno Center 20 Nov 2013Terverifikasi
TradisiMisalin 15/7 menjelang RamadanMasih lestari hingga 2026Aktif

Analisis Redaksi: Dari Arsip 2013 Menuju Ekosistem Budaya 2026

Data historis mencatat situs ini pernah dipandang sebagai lokasi keramat pasif, tempat pertapaan. Sementara proyeksi terbaru menunjukkan pergeseran fungsi: dari ruang kontemplasi menjadi simpul edukasi dan wisata religi. Kontradiksi penamaan dusun bukan kesalahan, melainkan evolusi administrasi desa yang wajar. Nilai tambah terbesar terletak pada dualitas artefak Hindu-Islam yang membuktikan Galuh tidak runtuh mendadak, melainkan bertransisi. Hal ini membuka ruang riset lanjutan tentang Islamisasi pedalaman yang lebih damai dibanding pesisir. Bagi pelaku ekonomi kreatif, promosi digital yang dilakukan sejak 2024 memberi peluang paket tur sejarah Galuh yang menghubungkan Salawe dengan Bojongmengger dan situs Kawasen.

Perkembangan ini juga menuntut literasi digital. Komunitas lokal mulai belajar skill pengelolaan konten freelance untuk membuat narasi situs yang akurat, bukan mistifikasi berlebihan. Pengalaman redaksi simbol.id melihat pola serupa di banyak cagar budaya: ketika dokumentasi diperbaiki, kunjungan naik, tapi risiko komodifikasi juga ikut naik. Ekonomi kreatif harus tetap tunduk pada pakem ritual misalin yang dipimpin warga adat, bukan event organizer luar. Itulah keseimbangan yang menjaga sakralitas tetap hidup di era Instagram.

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan cagar budaya Priangan Timur, cerita warga penjaga situs, dan agenda misalin tahun depan, pantau terus update harian di simbol.id. Kami merangkum laporan lapangan, arsip kliping Abah Latif Adiwijaya, dan riset kampus agar kamu dapat konteks utuh, bukan sekadar foto batu.

Topik: #budaya
Bagikan: